Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2014

Solusi~

Pernahku Takut dalam kesendirianku Terasa gelap dalam terangnya dunia Melangkah sendiri Berdiam diri Konsentrasi Refleksi Solusi Usah khuatir duhai diri Dikau bakal sendiri jua nanti Mengapa harus takut perbaiki diri Pernah ku dengar Iman itu ada pada langkah Lalu Teruslah melangkah Walau sendiri Kerana Allah sentiasa di sisi

Engkau Yang Berkenaan..

Rindu aku Akan senyumanmu Yg sudah terbiasa ku lihat Yg tidak pernah kau adakan Tatkala ada amarah disitu Yg sudah ku kenali Senyum jenis apa itu Tiada kemusykilan andai aku tau Karena senyum itu sudah bertahun terbiasa singgah bertamu Dan mulai rindu aku Dgn ketiadaanmu Rindu aku Akan amarahnya kamu Yg telah biasa ku hadapi Tatkala keenggananmu menatapku Tatkala getar bicaramu tidak berlagu Tatkala tuturmu pedih tak kau tau Yg mematangkan aku Yg terselit tegas buat kebudakanku Yg ada rindu buat kecengengannya aku Tidak ada kemustahilan Andai ada rindu buat amarahmu Karena ia mengajarku Dewasa dalam kebudakanku Dan mulai mencari aku Akan amarahmu Rindu aku Akan sentuhan kasarmu Saat membelai wajahku Saat memegang erat tanganku Saat menahanku dari pergi jauh Saat mengusap lembut jemariku Diwaktu sakitnya aku Kasar sentuhanmu tapi ada lembut disitu Mengejutkan sentuhanmu tapi ada rasa selamat disitu Tiada bantahan andainya aku Rindu sentuhan kasarmu ...

Maaf itu..

Semalam, Engkau diminta memaafi, Pada segala yang menyakiti, Lalu iya bibir tuturi , Tapi bagaimana dengan hati? . . . Ana selalu berusaha memaafkan lalu melupakan. Iya. Selalu. Apa jua cerita2 basi yg mereka2 tebarkan, atau apa jua nista2 yg mereka tuturkan, ana maafkan. Bibir ana bertutur, maafkanlah; sedangkan dosamu kau minta diampuni apatah lagi kesalahan mereka itu. Tapi, kian lama parut yg ana berusaha jaga agar tidak berdarah kembali itu kian pedih..digoresi dgn panahan mata, ditusuk dgn bicara kasar, disakiti dgn jolokan kata. Ana sejujurnya mulai tidak kisah namun mereka umpamanya menggesa. Menggesa keikhlasan dalam maaf ana itu tiada. Dalam kesendirian ana mengadu dgn-Nya, ana sedar ana pendosa yg bakal dihitung tapi kenapa hati masih sukar ikhlas memberi maaf? Sedangkan diri penuh dosa. Juga pernah lalai. Bahkan mungkin hari ini masih lagi alpa dan lalai. Suudzon itu ana kunci dalam2 lalu husnuzon ana hiasi indah. Kerana ana takut dalam bersangka buruk, ana...